EXECUTIVE SUMMARY
Seminar Nasional “Persiapan Masyarakat Banten Menyambut Pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS)” pada tanggal 9 Mei 2012 di UNTIRTA Serang-Banten.
Seminar ini baru pertamakali dilaksanakan di Provinsi Banten sebagai kerjasama UNTIRTA dengan Satker PBL Banten Kementrian PU. Menghadirkan Keynote Speaker Dr. Bastary Pandji Indra-Direktur Pengembangan Kerjasama Pemerintah & Swasta-Kementrian Bappenas RI dan Prof. Wiratman Wangsadinata-Wiratman&Asociates-Designer JSS. Dibuka secara resmi Oleh Rektor UNTIRTA, dilanjutkan diskusi Panel : Kepala Satker PBL Banten Kementrian PU, Kepala Bappeda Banten, Kepala BLHD, Dinas Bina marga dan Tata Ruang, Kadin Banten, Dirut PT. Krakatau Bandar Samudera, Direktur Krakatau Engineering, Kepala ASDP Merak, Kepala ADPEL Banten, tim UI, dan Pemakalah dari para Dosen UNTIRTA sesuai kompetensinya. Seminar dihadiri sekitar 200 orang dari semua kalangan dan stakeholder yang ada di Provinsi Banten serta diliput media cetak dan noncetak baik lokal maupun nasional.
Saat ini dunia sedang dikejutkan oleh dua kejadian yang luar biasa yang dengan cepat mengubah peradaban manusia yang sudah ada, yaitu pemanasan global dan perkembangan teknologi informasi. Ini membuat kita harus berlari kencang untuk menguasai teknologi dan informasi yang bisa menyelamatkan peradaban yang sudah ada selama beribu-ribu tahun. Pemanasan global mengakibatkan kualitas hidup kita menjadi menurun dan menimbulkan bencana kemanusiaan sedangkan perkembangan teknologi informasi memungkinkan kita mengetahui dengan cepat perkembangan yang terjadi di belahan dunia lain.
Penguatan Kawasan Tumbuh sekitar Jembatan Selat Sunda (JSS)
Oleh
Mukoddas Syuhada, ST. MT. IAI
Kepala Satuan Kerja Penataan Bangunan dan Lingkungan Provinsi Banten
Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan Dirjen Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum
ABSTRAK
Sebuah mimpi yang digagas sekitar tahun 1960an kini menjadi kenyataan yaitu rencana Pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang akan berdampak sangat luas terhadap kawasan-kawasan disekitarnya, sehingga dibutuhkan penguatan kawasan tumbuh dalam bentuk Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL). Penyusunan dokumen RTBL merupakan suatu langkah yang harus diutamakan mengingat JSS ini akan dibangun tahun 2013, juga karena kondisi eksisting kawasan sekitar JSS yang sudah berubah fungsi menjadi bangunan komersial. Selain itu, kawasan pesisir Selat Sunda merupakan kawasan yang sangat strategis baik itu sebagai pintu gerbang menuju daratan maupun Selat Sunda yang masuk ke dalam Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I sehingga dibutuhkan pengaturan dan pengendalian yang mempunyai kekuatan hukum. Memang bukan pekerjaan yang mudah, tapi juga tidak terlalu sulit karena Indonesia ini sudah sangat lengkap mengenai payung hukum mengenai penataan kawasan dan pertanahan. Tidak mudah karena melibatkan semua elemen masyarakat dan investor yang memanfaatkan lahan di pesisir (sudah dikavling-kavling) menjadi tempat usaha yang sudah terjadi selama puluhan tahun. Tidak terlalu sulit karena payung hukum untuk penataannya sudah sangat lengkap. Hasil konferensi di Salford University, Australia menyatakan bahwa tahun 2025 kota-kota terbaik di dunia akan bergeser ke Asia, sehingga Asia menjadi begitu epik dan semakin maju menyusul Amerika dan Eropa, namun dengan karakter sosial, teknologi, spiritual dan emosional yang makin unik. Begitupun dengan Provinsi Banten dengan konsep The Flying City dan Jembatan Selat Sunda, sehingga di tahun 2025 nanti Banten akan menjadi Provinsi yang Berkelas Dunia.
Kata Kunci : Pembangunan Jembatan Selat Sunda, Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan, The Flying City.
The Flying City : Banten Cities Concept
By: Mukoddas Syuhada
Considering the impact of climate change and rapid constructions development in Banten Province, genuine solutions must be based on sustainable of productive land used for agriculture, plantations and farms. In consequence all unwise development would be catastrophe that wiping out the civilization. The Flying City is one concept that can be considered a humanized city which prioritizing comfort living in everyday activities. Accessibilities would be facilitated well with mass transportation system as well as the green zone to be complimentary for public activities. Furthermore, building and settlement would adopt Green Building and Eco Village concept.
Minggu ini merupakan minggu yang sangat menyenangkan sekali, setelah kemarin mengikuti Semiloka Nasional tentang Perubahan Iklim dan Peran Indonesia di Universitas Gunadarma, sekarang saya dapat kabar jika karya kami tentang pengembangan kawasan ramah lingkungan di pesisir Teluk Banten lolos seleksi untuk mengikuti Indonesian Architecture Public Exhibition 2012 in Den Haag Holland. Ini semua merupakan titik balik untuk mulai membangkitkan kembali kejayaan Banten masa Kesultanan. Di semiloka itu pulalah saya bertemu dengan orang-orang luar biasa yang sangat peduli dengan perubahan iklim sehingga beliau-beliau ini mau mendukung konsep saya dalam menata kawasan yang ramah lingkungan, tidak hanya do’a, tapi juga pembiayaan dari Tim Asistensi Menteri Keuangan bidang Perubahan Iklim.
Ya Matahari itu sudah datang, setelah hampir 3,5 tahun menanti di pesisir Teluk Banten. Di bawah ini adalah sharing saya mengenai percontohan kampung ramah lingkungan sebagai antisipasi perubahan iklim dalam kawasan dengan konsep Eco Village.









